Tuesday, April 14, 2015

MENGENAL KOTA BUMIAYU

Bumiayu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Bumiayu merupakan pusat aktivitas masyarakat di bagian selatan Kabupaten Brebes seperti Tonjong, Sirampog, Bantarkawung, Salem, danPaguyangan. Kecamatan ini berada di daerah dataran tinggi, dan dilalui jalur transportasi utama Tegal-Purwokerto, serta jalur kereta api Jakarta-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. Stasiun kereta api Bumiayu merupakan salah satu perhentian kereta api yang penting di daerah ini.
Di Bumiayu terdapat Pasar Wage, yaitu pasar yang hanya buka setiap lima hari sekali menurut hari pasaranKalender Jawa. Di kota Bumiayu, sebagian besar masyarakat Bumiayu memiliki mata pencaharian sebagai pedagang. Kawasan perdagangan kota Bumiayu yang membentang dari Talok hingga Jatisawit. Pasar di Bumiayu adalah Pasar Talok, Pasar Bumiayu, Pasar Majapahit, dan Pasar Jatisawit.
Untuk mengurangi kemacetan di kota Bumiayu, Pemerintah Kabupaten Brebes membangun jalan Lingkar Selatan, yang dibangun di sebelah timur wilayah perkotaan Bumiayu. Jalan tersebut terbentang mulai dari Talok hingga Pagojengan Kecamatan Paguyangan dan melintas di bawah jembatan kereta api Sakalimolas.
Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]Nama Bumiayu diberikan oleh Adipati Anom (Amangkurat II) dalam pelariannya ke Tegal, karena di daerah ini ia bertemu dengan penduduk sekitar yang berparas cantik (bahasa Jawa: ayu).
  1. Adisana
  2. Bumiayu
  3. Dukuhturi
  4. Jatisawit
  5. Kalierang
  6. Kalilangkap
  7. Kalinusu
  8. Kalisumur
  9. Kaliwadas
  10. Langkap
  11. Laren
  12. Negaradaha
  13. Pamijen
  14. Panggarutan
  15. Pruwatan

Agama[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan. Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Bumiayu dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di daerah pusat pebelanjaan kota bumiayu, bisa dijumpai penganut agama Katolik dan ada gereja di dekat kantor polisi.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Beberapa tampat wisata di Bumiayu diantaranya:[Pemandian air panas Paku Jati]] dan Buaran.

Pariwisata lainya[sunting | sunting sumber]

  1. Kaligua tempat wisata Agrobisnis
  2. Waduk Penjalin waduk pensuplai Air untuk perairan di kabupaten brebes
  3. Candi Pancurawis tempat bersejarah
  4. Candi Pankuan tempat bersejarah
  5. curug putri air terjun di kota bumiayu kecamatan sirampog
  6. Shopping centre pusat perbelanjaan bumiayu yang terbentang dari tonjong sampai peguyangan. centra perdagangan berada di bumiayu pusat/ kecamatan bumiayu

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Makanan khas dari kota ini hampir sama dg yang ada di kota purwokerto adalah

Mendoan
  • Mendhoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis/diiris tipis kemudian digoreng dengan tepung yang diberi bumbu dan digoreng setengah matang.
  • Kripik Tempe, prosesnya seperti mendhoan tetapi digoreng sampai kering.
  • Sroto, daerah lain menyebutnya Soto.
  • Gethuk Goreng, sentra pembuatannya tersebar di kota bumiayu.
  • Keong Kuah Pedas/Kraca, dengan bahan utama keong sawah yang dimasak berkuah dengan bumbu-bumbu kuat yang memberi nuansa pedas dan segar hingga ke tenggorokan.
  • Dage, kudapan mirip kue yang berbahan dasar ampas kacang yang digumpalkan dan dijamurkan. Biasa disajikan berupa goreng tepung berbumbu dan disantap dengan cabe rawit atau "lombok cengis".
  • Semayi, lauk dari ampas kelapa yang dibumbui dan dipanggang di atas api kecil. Makanan yang menjadi simbol hidup melarat ini kini sudah amat-sangat susah ditemukan.
  • Tegean, adalah sebutan khas Banyumas untuk sup sayur berkuah bening yang tampak sangat sederhana namun sangat menyegarkan. Sayur-mayur berupa bayam, kecambah kedelai hitam, daun katuk, dan kedelai hitam butiran lazim menjadi unsur utama masakan ini. Untuk bumbunya, selain bahan-bahan yang lazim seperti bawang merah dan bawang putih, tegean juga bercirikan dengan "geprekan" kencur yang sangat menyegarkan.
  • Empal basah, berupa masakan berbahan dasar daging dan tetelan sapi yang dimasak dengan kuah santan yang kental. Kekhasan empal basah Banyumasan adalah adanya sensasi gatal dan geli yang ditimbulkan oleh campuran srundeng di dalam kuah kental tersebut. Empal basah sangat cocok dimakan dengan ketupat berkulit janur (jangan ketupat berkulit plastik).
  • Themlek, kudapan ringan dari ampas tahu berbumbu yang digoreng dengan adonan tepung. Makanan yang akan meninggalkan rasa seret di tenggorokan ini sudah semakin jarang ditemui.
  • Nopia.
  • Beberapa jenis makanan tradisional yang dikenal yakni: ranjem, mi thayel, timus, klanthing, sempora (awug-awug), utri, puli (ciwel), ongol-ongol, gebral, kluban,grontol, mireng, kamir, moho, golang-galing, lopis, ondol-ondol, widaran, angleng klapa, angleng kacang, rujak mentah, rujak mateng, ampyang, grebi, dampleng (mirip combro). soto
  • Gorengan Randhem,Berupa olahan makanan yang terbuat dari bahan ampas tahu,yang di beri racikan rempah tradisional dan terbalut adonan tepung terigu,dan uniknya makanan yang tergolong langka ini hanya bisa di jumpai di Desa Cilibur dukuh Kumambang,dan saat ini yang masih tekun menjalani usaha ini adalah Ibu Karwen dan Ibu Muslikha,masyarakan di Dukuh kumambang ini rasanya tidak lengkap rasanya jika sarapan tanpa ada sepiring Gorengan Randhem.
  • Gorengan randhem sangat akrab di telinga masyarakat Desa Cilibur,entah bagaimana asal usul dan sejarahnya sampai sekarang tidak ada referensi yang kuat untuk membuktikan siapa tokoh di balik penggagas ide terciptanya Gorengan Randhem.
  • selain Gorengan Randhem di Desa Cilibur juga mudah di temui makanan lain seperti GORENGAN KEPEL,BLANGGEM,GETUK LINDRI,KUPAT LEPET,GEBRAL Dll,penasaran ingin mencicipnya ? silahkan kunjungi pasar tradisional Di Desa cilibur Krajan,rute yang bisa di lalui salahsatunya dari terminal baru Bumiayu kearah Langkap menuju keatas lagi di desa Menggala dan sampailah di Desa Cilibur.
  • Kereta api[sunting | sunting sumber]

    Stasiun Bumiayu
    Stasiun Bumiayu (BMA) merupakan stasiun kereta api kelas 2 yang terletak di dukuhturi, Bumiayu, Brebes. Stasiun yang berada pada ketinggian +636,45 m dpl ini terletak di Daerah Operasi V Purwokerto. Stasiun ini termasuk tipe sisi dan memiliki 3 jalur. Stasiun ini sering menjadi tempat persilangan rangkaian kereta api.
    Sekitar 1 km ke arah timur dari stasiun ini terdapat Jembatan Sakalimolas yang memiliki panjang 280 meter, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Daop 5 Purwokerto.
    Berikut ini adalah kereta api yang berhenti di Stasiun Bumiayu.

    Tokoh dari Bumiayu[sunting | sunting sumber]

    • Yahya Muhaimin, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
    • Achmad Faris Sulchaq, Mantan Wakil Bupati Brebes
    • Tasdik Kinanto, Mantan Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
    • Suwarno Hadisusanto, Dekan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
    • Titiek Sandora, Artis dan Penyanyi

    Pendidikan[sunting | sunting sumber]

    Bagi wilayah Kabupaten Brebes bagian selatan, Bumiayu merupakan pusat pendidikan. Ditingkat SLTA, terdapat SMAN 1 Bumiayu, SMA BU NU, SMA Islam T. Huda, SMA Muhammadiyah, SMK Muhammadiyah, SMK Kerabat kita, SMA An-Nurriyah,SMAN 1 Paguyangan, SMA Negeri 1 Sirampog jalan raya Gunung Kembang telpon 0289 510 5000, dan SMK Maarif NU 01 Bumiayu Jalan Pintu Air Purbanala, Tegong, Jatisawit, SMK Semesta Bumiayu.
    Bumiayu juga terdapat sejumlah pondok pesantren seperti Pondok Pesantren An-Nurriyah dan Pondok Pesantren Shofwatussu'ada di Krajan, Bumiayu.Pondok pesantren Darunnajah Tegal Munding Pruwatan dan masih banyak lagi.

    Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

ASAL MULA KOTA BUMIAYU

ASAL MULA KOTA BUMIAYU *
Permohonan maaf penulis terlebih dahulu penulis haturkan kepada publik, karena tulisan di bawah ini cerita rakyat dari mulut ke mulut yang tentunya memiliki banyak versi serta tidak dijumpai sumber yang dianggap paling autentik yang dapat dijadikan acuan secara pasti. Namun setidaknya tulisan ini dapat menjadi khazanah bagi masyarakat Bumiayu dan sekitarnya untuk dapat diketahui bagaimana sebuah legenda maupun mitos yang selama ini hanya menjadi buah bibir tanpa memiliki nilai yang berarti.
Oleh karenanya, penulis tidak mencantumkan kata “sejarah”, untuk menghindari adanya satu anggapan upaya pemelintiran kata “sejarah” (yang menurut para sesepuh dan tokoh, Bumiayu dan dan empat kecamatan lain disekitarnya, yakni ; Paguyangan, Bantarkawung, Sirampog dan Tonjong tidak memiliki hubungan historis dengan sejarah penamaan Brebes sebagai induk pemerintahannya).
Penulis sangat merasa berterimakasih jika ada diantara pembaca dapat memberikan informasi (terutama berkaitan erat dengan nama ; Balaikambang, Kedatuan, Linggapura, Pesanggarahan, Balapusuh, Rajawetan, Margasari, Balapulang, dan Slawi) yang masih belum dapat tercover dalam tulisan ini. Kritik dan saran selalu penulis harapkan, terutama bagi yang memiliki ikatan kultural dengan Kota Bumiayu dan sekitarnya.
Perjalanan dari Mataram
Diawali dari mangkatnya Raden Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman atau yang masyhur disebut dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1645, tepat enam tahun setelah berhasil menaklukan Blambangan tahun 1939. Sultan Agung telah berhasil melakukan ekspansi ke deluruh daerah di Jawa dan Madura (kecuali Banten dan Batavia)[1] dan beberapa daerah luar Pulau Jawa, seperti ; Palembang, Jambi dan Banjarmasin. Mangkatnya Sultan Agung membuat sang putra mahkota Pangeran Arum didaulat untuk memimpin Mataram, dengan gelar Sunan Amangkurat I. Sejak kepemimpinannya, wilayah Mataram berangsur-angsur menyempit karena aneksasi yang dilakukan oleh Belanda. Perpecahan tersebut disamping atas peran Belanda, juga akibat adanya kegusaran masyarakat atas ekspansi yang dilakukan oleh Mataram yang menjelang mangkatnya Sultan Agung. Pemberontakan-pemberontakan terhadap kekuasaan raja banyak dilakukan, antara lain dari ; keturunan Sunan Tembayat, keturunan Kadilangu, Wangsa Kajoran, keturunan Panembahan Rama dan Panembahan Giri.
Atas gencarnya aksi pemberontakan tersebut, mengakibatkan posisi Sunan Amangkurat I terpojok (yang dalam versi ini diindikasikan menjalin kerjasama dengan VOC - Verenidge Indische Oast Compagnie, sebuah organisasi monopoli perdagangan milik Belanda di Batavia) sehingga ia berinisiatif untuk menyelamatkan diri dan hendak meminta bala bantuan kepada Gubernur Jenderal De Cock.
Penamaan Ajibarang
Perjalanan Sunan Amangkurat I dikawal para prajurit keratin dengan mengambil route perjalanan Kedu-Banyumas-Tegal untuk kemudian singgah di Kadipaten Carbon atau Caruban atau Cirebon. Singkat cerita, sesampainya di suatu daerah barat Banyumas, Rombongan Gusti Sunan kehabisan perbekalan. Kemasygulannya bertambah setelah ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan puluhan prajuritnya yang mati akibat jarak tempuh perjalanan secara infanteri dengan medan yang berat dan sangat jauh.
Di daerah tersebut, abdi setia Sunan Amangkurat I, bernama Kyai Pancurawis yang juga bertindak sebagai sais kereta kencananya, kemudian berusaha menjual barang-barang bawaan yang masih tersisa demi untuk kemudian ditukar atau dibelikan kembali dengan bahan-bahan makanan pokok sebagai perbekalan untuk meneruskan perjalanan yang masih jauh. Usaha Kyai Pancurawis beserta para Ponggawanya ternyata berhasil. Baik barang yang memiliki nilai jual tinggi ataupun rendah semuanya terjual dan tertukar habis sehingga berhasil mendapatkan perbekalan yang dikehendaki.
Bukan main senangnya hati Gusti Sunan melihat usaha abdi-abdinya. Sebagai wujud rasa syukurnya, ia menamakan daerah tersebut dengan AJIBARANG, yang berarti barang apapun yang dijual didaerah tersebut “ana ajine” atau ada harganya.
Legenda Paguyangan
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kembali Gusti Sunan harus menelan pil pahit. Betapa tidak, kuda penarik kereta kencananya mendadak jatuh tersungkur terkulai tak berdaya. Berbagai cara ia lakukan untuk dapat mengembalikan kondisi kudanya. Hal tersebut terutama dilakukan oleh Kyai Pancurawis, dimana Kyai Pancurawis terkenal sebagai abdi keraton yang memiliki daya linuwih yang cukup tinggi. Di tengah suasana keprihatinan itu, Gusti Sunan beserta rombongannya beristirahat sembari menunggu hasil laku tapa yang dilakukan oleh Kyai Pancurawis di sebuah tempat petilasan Senopati Linduaji (yang dulu pernah menjadi spionase ayahandanya, Sultan Agung). Tempat tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Curug Pereng dekat mata air Kali Pemali Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan. Sementara tempat peristirahatan Sunan Amangkurat I di kawasan tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Pesanggahan (yang berarti tempat singgah ; sanggrah).
Dari petunjuk yang dihasilkan dari laku tapa tersebut, Kyai Pancurawis mendapatkan perintah supaya ia mengambil air yang berasal dari sebuah sendang (danau) di lereng Gunung Slamet yang dihuni oleh makhluk air jejaden (jejadian) jelmaan ponggawa Nyai Roro kidul. Segeralah Kyai Pancurawis terhenyak dari laku semedinya, untuk kemudian mencari tempat yang dimaksud. Cukup lama ia mencarinya, akhirnya ditemukanlah tempat yang ia tuju. Sebuah sendang di tempat yang sangat sejuk yang sekarang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan TELAGA RANJENG, dengan jutaan ikan lele sebagai penghuninya.[2]
Kyai Pancurawis menerima petunjuk, jika air yang berasal dari sendang tersebut kemudian dapat disiramkan ke sekujur tubuh kuda penarik kereta kencana Gusti Kanjeng Sunan Amangkurat I yang dalam kondisi sekarat. Hasilnya ternyata sungguh mengejutkan, setelah sekujur tubuh kuda itu basah terkena siraman air Telaga Ranjeng, secara berangsur-angsur namun dalam waktu yang cukup singkat, kuda itu dapat pulih seperti sedia kala. Atas keberhasilan usaha Sang Sais, Gusti Sunan berujar, “Tempat ini aku namakan PAGUYANGAN, dan aku yakin kalau tempat ini tidak akan kekurangan air sampai kapanpun sebagai sumber kehidupan masyarakatnya kelak.”
Di tengah kegembiraan sumringah wajah Gusti Sunan, terdengar helaan berat nafas Kyai Pancurawis yang masih berfikir tentang adanya pantangan bagi kuda kesayangannya itu. Dalam petunjuk yang ia terima, jika kuda itu telah pulih, maka hal yang tidak boleh ia lakukan adalah menginjak bambu kering. Jika pantangan itu terlanggar, maka tak ayal lagi kematian yang akan menimpa kuda tersebut.
Tibalah di suatu tempat dimana kejadian yang tidak diinginkan kembali terjadi. Dalam perjalanan berikutnya, secara tiba-tiba kereta kencana terangkat ke atas sampai hampir menjatuhkan Sunan Amangkurat I. Seekor ular besar tampak berada di depan kereta kencana. Sontak saja, kuda penarik mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dengan tenang, Kyai Pancurawis mencoba menenangkan gelisah dan ketakutan si kuda. Diambilnyalah sebuah bambu kering yang digunakan untuk mengusir ular yang menghadangnya. Tampak si ular tak kuasa menghadapi kekuatan batin Kyai Pancurawis, sehingga ia terpaksa harus meninggalkan mangsanya. Kepergian ular itu membuat tenang perasaan seluruh rombongan tak terkecuali Kyai Pancurawis dan kuda kesayangannya. Dibuangnyalah bambu kuning pengusir ular tadi, namun tak disangka dan tak dinyana, Kyai Pancurawis tak menyadari jika kudanya menginjak bambu kuning yang ia buang di hadapan kereta kencana Gusti Sunan sehingga mengeluarkan bunyi “kre..tek !”. (tempat tersebut kemudian dinamakan Desa KRETEK).
Suara angin menderu dan membahana seolah memecah keheningan rombongan Sunan Amangkurat I. Ia dan rombongannya merasa seolah-olah ada yang sedang memburunya dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Lari secepat kilat adalah pilihan terbaik yang dapat dilakukan rombongan saat itu, sehingga tempat berlarinya rombongan tersebut oleh masyarakat sekarang dikenal dengan nama PAGOJENGAN, berasal dari kata “nggojeng” yang berarti ; berlari cepat.
Bumiayu ; Mitos dan Legenda Nyai Rantansari
Sunan Amangkurat I dan wadya balanya memasuki suatu wilayah, dimana ia dan rombongannya dihadapkan pada suatu kejadian yang amat serius dan sangat membingungkan. Hal ini terjadi setelah rombongan masuk sebuah desa bernama “DAHA”.[3] Tanpa sebab musabab yang jelas, mendadak kuda penarik kereta kencana yang tidak lama telah melewati masa kritis, tiba-tiba terkulai lemas dan mati.
Bukan main sedihnya hati Gusti Sunan, terlebih Kyai Pancurawis yang merasa telah menyatu dengan kuda tersebut. Beberapa prajuritnya juga hilang tak berbekas seperti lenyap ditelan bumi. Dengan penuh rasa haru, dikuburkannyalah kuda itu di suatu tempat yang sekarang bernama KARANGJATI. [4] Agak lama Gusti Sunan dan rombongan berada di tempat tersebut. Ia telah mengalami beberapa peristiwa yang mengguncangkan hatinya. Ia sadar, jika ia telah lalai dalam menjalankan amanat sebagai Sultan Mataram sesuai dengan pesan dan petuah ayahanda dan kerabat keluarga kasultanan Mataram. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Allah SWT dan prajurit-prajurit yang masih setia kepadanya.
Begitu mendalam pula kesedihan yang dialami Kyai Pancurawis, yang kemudian ia meminta izin kepada Sunan Amangkurat I untuk diperkenankan tetap tinggal di Karangjati mengurus kuburan kuda kesayangannya sampai ajal menjemputnya.[5] Walhasil dengan tidak ikut sertanya Kyai Pancurawis menemaninya melanjutkan perjalanan, maka Gusti Sunan pun menjadi tidak memiliki semangat. Satu-satunya harapan yang sekarang ia miliki hanyalah bertemu dengan seseorang yang dapat mengobati kegundahan hatinya dan meluruskan langkah kehidupannya. Sesaat ia memandang sekeliling, tampak di pelupuk matanya Gunung Slamet yang menjulang tinggi ke angkasa, didampingi pebukitan yang setia menemani keperkasaannya. Sementara lerengnya, terhampar area pesawahan yang merupakan panorama keindahan alam sangat luar biasa. Sebuah wilayah yang masih dalam kekuasaan pemerintahannya di Mataram dengan masyarakat yang ramah dan religius, begitu pikirnya. Decak kagumnya, mengundang hasratnya untuk memberikan nama wilayah ini dengan nama BUMIAYU.
Di Bumiayu inilah Sunan Amangkurat kemudian bertemu dengan sosok wanita jelita yang memikat hatinya. Ia berusaha menghampiri wanita itu, namun semakin cepat ia berusaha meraihnya semakin cepat pula wanita itu lenyap dari pandangan matanya. Sampailah Gusti Sunan di sebuah tempat dimana ia melihat wanita itu masuk dan hilang tak berbekas. Betapa terkejutnya Gusti Sunan, ketika secara tiba-tiba muncul suara tanpa rupa yang menasehatinya supaya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk memperolehnya ia harus terus berjalan ke utara bukan ke barat. Di bawah pohon beringin besar ia tertunduk lesu sembari menyadari kealpaannya selama ini. Tempat tersebut kini bernama Dukuh Kramat (yang berarti Kramat ; Wingit atau angker) dan terdapat CANDI KRAMAT yang dipercaya masyarakat setempat dihuni oleh Nyai Rantansari.[6]
Sosok wanita ayu itu juga yang ikut memiliki peran atas penamaan Bumiayu ini. Menurut Sunan Amangkurat I, pemberian nama Bumiayu ini memang selain memiliki panorama alam yang sangat indah, juga karena wilayah ini “dikuasai” oleh Nyai Rantansari yang memiliki kecantikan tiada tanding.
Ikhtitam
Cukup lama Sunan Amangkurat I berada di wilayah Bumiayu dan sekitarnya. Singkat cerita, sampailah ia berada di suatu tempat bernama Adiwerna. Dengan bekal ketakwaan dan silsilah darah birunya, membuatnya menjadi panutan masyarakat sehingga ia mendapatkan gelar SUNAN TEGAL ARUM atau SUNAN TEGALWANGI. Ia dimakamkan di Pesarean Lemah Duwur Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Konon, makamnya pada hari-hari tertentu mengeluarkan bau harum, karenanya ia mendapatkan gelar Tegal Arum. Pemakamannya selalu ramai dikunjungi para peziarah, khususnya setiap malam Selasa atau Jum’at Kliwon, terlebih pada malam 1 Suro atau malam tanggal 1 Muharram tahun baru Islam. Para peziarah dating dari berbagai penjuru memadati ruas-ruas jalan Slawi-Tegal tentunya dengan berbagai macam tujuan. Namun sangat penulis sesalkan, bahwa tulisan cerita ini belum lengkap versinya. Belum ada informasi yang cukup meyakinkan penulis untuk dapat dimuat dalam sebuah cerita legenda, terutama tentang penamaan Dukuh Balaikambang, Kedatuan, Pesanggrahan, Desa Linggapura, Balapusuh, Rajawetan sampai dengan Adiwerna Kabupaten Tegal.

Monday, April 13, 2015

GUBURNER JAWA TENGAH MENINJAU JALAN CIREGOL BUMIAYU


gubernur-jawa-tengah-ciregol

TONJONG BREBES – Topmania, Jalur tanjakan Ciregol Kutamendala Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes merupakan bagian dari tindakan darurat negara. Karena darurat, jalur Ciregol merupakan jalur nasional untuk itu Pemerintah Pusat harus ada tindakan permanen, tetapi harus merelokasi jalur Ciregol tersebut sebab Tanjakan Ciregol tidak memungkinkan untuk di jadikan jalan permanen, karena Struktur tanah di Ciregol tidak memungkinkan, jika di paksakan akan menambah biaya dan tetap terus menjadi masalah kedepanya. Demikian di katakan Gubernur Jawa Tengah H.Bibit Waluyo saat melakukan kunjungan kerja di Jalur Nasional Ciregol Kutamendala Tonjong Kab. Brebes Jawa Tengah Jum’at 3 Agustus 2012.
Dalam kunjungan tersebut Gubernur Jawa Tengah melihat dan Mengecek langsung kesiapan Jalur Ciregol dalam menyambut Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran 1433 H.
Gubernur mengatakan, secara keseluruhan Jalur Ciregol Kutamendala Kec. Tonjong Kab. Brebes, sudah bisa dilewati dengan nyaman walupun masih ada beberapa yang perlu di sempurnakan, seperti Rambu-Rambu Laulintas dan lampu penerangan jalan akan terus di penuhi sehingga pada saat hari H nanti semua sudah selesai
Gubernur Jateng Bibit Waluyo Berada di Ciregol sekitar dua jam ,Ikut mendampingi dalam kunjungan tersebut, Para Pejabat Muspida Provinsi Jawa Tengah dan Muspida Kab. Brebes.
@dj-10/topfm

JALUR CIREGOL AMBLES JALUR PURWOKERTO TEGAL DI TUTUP

BREBES - Jalan Raya Ciregol yang menghubungkan Purwokerto- Tegal putus setelah tanahnya ambles kemarin. Akibatnya arus lalu lintas yang melewati jalur utama tersebut ditutup total. 

Ruas jalan yang ambles berada di Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Panjang ruas jalan yang ambles tersebut mencapai sekitar 50 meter dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Badan jalan hanya tersisa sekitar dua meter dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

“Ada satu titik yang ambles. Kondisi jalan sangat membahayakan sehingga ditutup total untuk kendaraan roda empat sejak pukul 18.00 tadi. Yang ambles mencapai 70% dari total badan jalan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Brebes Mayang Sri Herbimo saat dihubungi KORAN SINDO tadi malam. 

Mayang yang saat dihubungi baru saja meninjau lokasi jalan yang ambles mengatakan, kondisi tanah sudah mulai mengalami retak-retak dan ambles sejak sekitar pukul 15.00 WIB. Tanah kemudian terus mengalami penurunan dan ambles. “Kondisi tanah masih terus bergerak sehingga diputuskan ditutup total untuk kendaraan roda empat. Kendaraan roda dua masih bisa lewat tapi harus hati-hati sekali,” ujarnya. 

Menurut Mayang, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dishubkominfo Kabupaten Banyumas, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal untuk mengalihkan kendaraan roda empat bersama aparat kepolisianagartidakmelewati Jalur Ciregol. “Untuk proses penanganan jalan yang ambles nanti dari Bina Marga,” katanya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bina Marga Wilayah Slawi- Bumiayu-Wangon Ibnu Akhyar mengatakan, tanah ambles terjadi karena terus diguyur hujan terus menerus dalam beberapa hari terakhir serta pengaruh arus air Sungai Pedes yang melewati wilayah setempat. Dia menyatakan penanganan darurat akan dilakukan dengan mengerahkan alat berat ke lokasi untuk mengepras tebing di sisi sebelah barat jalan yang ambles. 

“Besok pagi (hari ini) kita lakukan pengeprasan bukti di sisi barat untuk membuat jalur baru agar bisa digunakan untuk lewat kendaraan,” kata Ibnu saat dihubungi. Adapun penanganan darurat untuk jalan yang ambles akan dilakukan dengan menguruk mengunakan pasir dan batu sembari menunggu langkah penanganan permanen dapat dilakukan. “Kita upaya penanganan darurat dulu untuk membuka jalur baru dan agar jalan tidak ngetrap,” ucapnya. 

Ibnu belum dapat memastikan berapa lama penanganan darurat tersebut akan rampung sehingga kendaraan bisa kembali melalui jalur tersebut. “Mudah- mudahan sebelum arus mudik Lebaran sudah bisa dilalui kendaraan,” ujarnya. Kasatlantas Polres Brebes AKP Rendy Andi Julikhlas melalui Kanit Turjawali Iptu Mulyono mengatakan, langkah pengalihan arus lalu lintas sudah dilakukan dengan bekerja sama dengan polres daerah lain. 

“Kita lakukan pengalihan arus lalu lintas karena jalur ditutup total untuk kendaraan,” kata Mulyono saat dihubungi tadi malam. Kendaraan baik kendaraan barang maupun pribadi dari arah Brebes yang keluar dari Exit Tol Pejagan dan hendak menuju ke jalur selatan dialihkan melalui Jalur Pantura. Sedangkan kendaraan dari arah Banyumas yang hendak menuju Jakarta dialihkan melalui Wangon-Cilacap-Tasikmalaya- Bandung. 

“Ada jalur alternatif untuk kendaraan pribadi dari Brebs yang mau ke jalur selatan melalui Karangsawah-Linggapura, tapi kondisinya padat jadi semua kendaraan dari Exit Tol kita alihkan ke jalur pantura semua,” terang Mulyono. Untuk mengatur pengalihan arus lalu lintas tersebut sekitar 50 personel Satlantas Polres Brebes sudah diterjunkan di beberapa titik seperti di Exit Tol Pejagan dan Rancakalong, Bumiayu. 

Pengalihan arus lalu lintas juga dilakukan Satlantas Polres Tegal Kota di perempatan Maya. Kendaraan berat dari arah Jakarta yang hendak menuju ke jalur selatan diarahkan untuk tidak melewati Jalur Ciregol karena sudah ditutup total. Terdapat empat personil yang disiagakan untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas di ruas tersebut. 

“Personel disiagakan di Pos Maya bergantian karena kita tidak sempat membuat banner himbauan kepada pengendara. Kendaraan terutama truk dan bus yang mau ke Ciregol kita arahkan lurus ke Pemalang,” kata KBO Satlantas Polres Tegal Kota Iptu Suwarno tadi malam.

Sunday, April 12, 2015

PEMERINTAH AKAN SECEPATNYA MERELOKASI JALAN ALTERNATIF CIREGOL
Pemerintah mulai pagi ini, Minggu (12/4/2015), tengah melakukan tanggap darurat atas longsor yang terjadi di jalan nasional Tegal-Purwokerto di Ciregol, Desa Kuta Mendala, Kecamatan Tonjong, Brebes pada Sabtu sore kemarin.
Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Djoko Mursito mengatakan pagi ini pihaknya telah mengerahkan petugas lapangan, berikut 2 excavator yang sudah ada di lapangan. Satu dozer lagi tengah didatangkan dari Semarang.
“Petugas di lapangan sudah kami minta untuk turunkan excavator, pelaksanaan pengeprasannya sendiri memakan waktu 7 hari,” katanya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Minggu (12/4/2015).
Djoko menghimbau agar kendaraan kecil dapat melalui jalan kabupaten sebagai jalan alternatif, sedangkan kendaraan besar bisa melalui Parakan-Wonosobo-Banjarnegara-Purwokerto-Wangon-Perbatansan Jabar.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Ditjen Bina Marga Kementerian PU-Pera Hedi Rahadian menyatakan saat ini jalan tesebut ditutup sambil dilakukan evaluasi. Untuk pengaprasan tebing, Hedi mengatakan masih ada sedikit kendala dengan pemilik lahan. Solusinya sedang diusahakan segera.
“Daerah longsor akan distabilkan berdasarkan evaluasi teknis yang kini sedang dilakukan, sedangkan solusi permanen relokasi jalan kami menunggu kesiapan lahan yang pembebasannya dibantu pemerintah kabupaten Brebes,” katanya.
Jalan naional yang menghubungkan wilayah Pantura dengan selatan Jawa Tengah tersebut amblas pada kilometer 115+900, atau di tebing Sungai Pedes yang juga longsor pada Februari lalu.

Thursday, March 12, 2015

CARA MEMASUKAN MODEL JADWAL MINGGUAN KE KELAS SD DI PADAMU NEGERI

Cara Memasukkan  Model Jadwal Pelajaran Mingguan ke Kelas di Padamu Negeri-Sobat Operator Sekolah, langkah ini merupakan langkah yang KELIMA  atau yang terakhir dari rangkain Pengaturan Jadwal Kelas Mingguan. Jadi bagi Anda yang belum membaca langkah kesatu sampai keempat, silahkan baca dulu ya?karena kegiatan ini harus dikerjakan secara urut. Adapun link-linknya ada pada bagian paling bawah di halaman ini.

Sobat Operator, dari langkah ke-1 sampai langkah yang ke-5 ini mohon jangan menjadi patokan/dasar karena terus terang ini hanya pengalaman pribadi saya sebagai Operator Sekolah, akan tetapi jika memang Anda membutuhkan keterangan yang ada di blog ini sebagi acuan pendukung  ya boleh -boleh saja. 

Oh ya, ini pengalaman saya dalam memasukkan model jadwal mingguan, sebagai berikut :

1. Kunjungi Padamu Negeri Kemdikbud, kemudian cari dan klik Login Admin/Operator Sekolah
2. Masukkan email, password, kemudian klik Masuk
3. Klik Sekolah ( kalau dulu Padamu Sekolah )



4. KLIK JADWAL


5. KLIK LIHAT JADWAL MINGGUAN

6.KLIK PILIH KELAS

7.Pilih kelas sesuai kelas/tingkat, pada contoh pilih kelas 6

8.Pilih Model Kelas


9.Jika muncul tampilan seperti gambar di bawah ini, maka klik YA
10.  KLIK Tambahkan Kegiatan" dalam hal ini tambahkan Mata Pelajaran sesuai Jadwal Pelajaran yang berlaku di Sekolah Anda
11.Klik Pilih Guru

12. klik Nama Guru



Jika setelah Anda mengeklik " Pilih Guru" seperti pada point 1, tapi pada tampilan point ke-12 belum muncul nama Guru yang dituju ( biasanya bagi Guru yang belum memiliki NUPTK/ baru punya PegID namanya belum muncul ), maka Anda harus memasukkan nama Guru yang dituju ke kotak pencarian, kemudian klik tombol sinkronisasi GURU yang letaknya ada di sebelah kanan kotak pencarian atau di sebelah pojok kanan atas, tunggu sebentar sampai sinkronisasi berhasil seperti tampilan di bawah ini :

 13. klik simpan


14. Isi semua kegiatan belajar mengajar dengan Mata Pelajaran dan Nama Guru yang mengampu mapel tersebut. Apabila jadwal pelajaran tidak penuh, misal pada hari senin pelajaran hanya sampai jam ke-7 maka kolom jam yang ke-8 perlu diedit dengan cara mengosongi saja dan dengan catatan jangan mengubah alokasi waktunya , contoh :

15. Setelah muncul tampilan seperti contoh di bawah ini, maka untuk kelas yang lain caranya juga sama. Selesaikan pengaturan Jadwal Mingguan Kelas dari kelas 1-6 ( SD ). Semangat menikmati.he he


Apabila di sekolah sobat ada Guru yang status tugasnya sebagai PTK Non Induk ( Guru yang tugas Induknya di sekolah lain tetapi merangkap tugas mengajar/mendidik di sekolah kita seperti: Guru Agama, Guru Penjasorkes, dan lain-lain) maka sobat harus memastikan bahwa Guru tersebut sudah mencetak S20 dan oleh sobat sudah dicetakkan S21, karena jika Guru tersebut belum punya S20 dan S21 akan menjadi kendala sobat dalam memasukkan jadwal mata pelajaran sesuai guru pengampunya masing-masing,  yakni nama guru tidak akan muncul di dashboard pengaturan jadwal kelas mingguan sekolah sobat

Monday, March 2, 2015

CARA MEMASUKAN SISWA KEDALAM ROMBEL PADAMU NEGERI 2015


Cara Memasukan Siswa Kedalam Rombel Padamu Negeri 2015 - Setelah sebelumnya share artikel bagaimana Cara Mengisi Jadwal Kelas Mingguan Padamu Negeri 2015, kali ini saya akan berbagi informasi bagaimana Cara Memasukan Siswa Kedalam Rombel Padamu Negeri 2015. Data kelas ini nantinya berhubungan dengan jadwal, karena apabila data kelas/rombel tidak diinput, maka akan mengalami kesulitan saat mengisi jadwal kelas mingguan.


Diharapkan agar memasukan semua siswa sehingga data yang tersimpan nantinya valid.



  • Login Admin/Operator Sekolah di web Padamu Negeri.
  • Klik Padamu Sekolah, pada tab sekolah pilih "Kelas" dan klik "daftar kelas"

  • Klik tanda + (plus) sesuai anak panah.


.     . Masukan data yang diminta sesuai contoh gambar berikut ini



  • Kemudian pilih kelas yang sudah dibuat tadi (klik tanda segitiga yang ditunjuk tanda panah)



  • Klik Peserta Kelas
  • Klik tanda + (plus)
       . Centang semua nama anak, kemudian pindahkan ke kanan sesuai anak panah

  • Klik tambahkan
  • Hasilnya seperti ini, selesai

















luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com